deerandry

Seniman Partisipan

In Uncategorized on January 12, 2009 at 8:45 am

  1. Achmad Krisgatha
  2. Ackay Deni
  3. Ade Darmawan
  4. Adi Wiguna
  5. Adinda Natasha Oxcerila Paryana
  6. Ageng Purnagalih
  7. Aji A Sumardhani
  8. Alfiah Rahdini
  9. Alvin Ekajaya P.
  10. Amira Rahmitya M.
  11. Andi Yudha Asfandiyar
  12. Anindi Maulidya Fatima
  13. Angga Wedhaswara
  14. Annisa Utami
  15. Amelia Lestari
  16. Amira Rahmitya
  17. Arian Arifin Wardiman (Arian13)
  18. Arienska Aliani
  19. Arief Tousiga
  20. Arum Sekar Prameshwari
  21. Asep Wahyu
  22. Asmudjo Jono Irianto
  23. Attina
  24. Azalea Fisitania
  25. Banung Grahita
  26. Benny Muhdaliha
  27. Budi Adi Nugroho
  28. Chandra Tekstil
  29. Denden Firman Arief
  30. Denny WT
  31. Detzi Patricia Jovanka
  32. Dewi Aditya
  33. Desziana
  34. Dianti Dwi Anugerah
  35. Dicky Aulidzar (Semarang)
  36. Dila Martina Ayu
  37. Dimas Ayu Lestari
  38. Djarot Pambengkas H.
  39. Dodi Hilman (Odoy)
  40. Dodi Mustafa (Domus)
  41. Endira (Nuri)
  42. Endy S
  43. Eria Chita Bestari
  44. Erick Pauhrizi
  45. Etza
  46. Evan Driyananda
  47. Eria Chita
  48. Erwin Windu Pranata (Ewing)
  49. Faisal Reza
  50. Fajar Sidik P (Pophenk)
  51. Fauzy Prasetya (Uji)
  52. Franz Prasetya
  53. Hadi Hapran Permana
  54. Handy Hermansyah
  55. Herra Pahlasari
  56. Herry ‘Ucok’ Sutresna
  57. Indrani Ashe
  58. Irine Stephanie
  59. Irfan Amalee
  60. Irfan Fatchu Rahman (Semarang)
  61. Itsnataini Rahmadillah
  62. Iwa Indrawa
  63. Ibey-
  64. Iwan Ismael
  65. Jodi Setiawan
  66. Jodie P. Panudju
  67. Joko Avianto
  68. Julissa Pertiwi Gosali
  69. Joni E. Daulay
  70. Krishnamurti (Nishkra)
  71. Kupi Arif
  72. Leonardiansyah Allenda
  73. Maya Purnama Sari
  74. Meizal Rossi
  75. Mia Meilia
  76. Mohammad Brendan Satria A
  77. Indra Morgan
  78. Mufti Priyanka (Amenk)
  79. Muhammad Akbar
  80. Muhammad Surya Gumilang
  81. Mujahidin
  82. M. Sigit Budi S
  83. Nenden Vinna Mutiara Ulfa
  84. Nina Maftukha
  85. Nuri
  86. Oxcel
  87. Paramita Manggiasih Chalid
  88. Pramuhendra
  89. Pritha Fitria Natasha Bekti
  90. Prilla Tania
  91. Putri (Uci Patung)
  92. Rabianna Laykanissa Siregar
  93. Radi Arwinda
  94. Ramdhan Darmawan
  95. Rangga Aditya B
  96. Rangga Dimitri
  97. Ranti
  98. Ratna Muliasari Dinangrit
  99. Rennie ‘Emonk’ Agustine F
  100. Roni Brons
  101. Rudi ST Darma
  102. Rusa Risa
  103. Rufaidah
  104. R. Yuki Agriardi (Ewo)
  105. Sally Texania
  106. Sindi Ibnusina
  107. Singgih AP (Semarang)
  108. Siti Irma Rahmawati
  109. SR Maya Kartika a.k.a AllezNina
  110.  Sri Ratna Ovianita
  111. Taufik S (Opik)
  112. Tina “ Beni” Nuraziza
  113. Tisa Granicia
  114. Tommy AP
  115. Vidya
  116. Widya Annisa
  117. Wisesha Wening Galih
  118. Yanti Hanafiah
  119. Yasmina
  120. Yori Frisa Papilaya
  121. Ykha Amelz
  122. Yudi Triadi
  123. Yusuf Ismail
  124. Zaenal Abidin

Karya-karya

In Uncategorized on January 12, 2009 at 8:34 am

Tulisan Dida Ibrahim untuk Deer Andry

In Uncategorized on December 27, 2008 at 1:55 pm

 

…seni bagi Yoko adalah gagasan,…medium bukan hal yang penting dan utama”. (A. Sudjud Dartanto: 2006)

 

Seni milik semua orang, biarkanlah mengalir, eksperimen. Semangat ini berkembang dalam pergerakan seni Avant-Garde radikal di Jerman (DADA) yang merambah ke dataran Amerika (Fluxus) pada tahun 60-an. Dalam pola kekaryaanya, perilaku DADA yang menjadi dasar pergerakan Fluxus telah membiaskan, melawan, meruntuhkan batas-batas dan ruang-ruang yang dikonstruksi dalam seni modern yang cenderung ekslusif. Meskipun medium bukan hal yang penting, dalam fluxus maupun DADA, semangat eksperimentasi terhadap medium menjadi sangat esensial. Wujud sebenarnya dari seni adalah gagasan yang direpresentasikan melalui eksperimen-eksperimen medium, memindahkan sudut pandang, dan mendekatkan jarak dengan audiensnya. Selanjutnya, gagasan-gagasan ini sebagian besar telah menjadi pola/ konsepsi kekaryaan Andry Moch. 

 

Dari beberapa catatan, Fluxus bukanlah penggayaan, dia terus bergerak menuntut perubahan yang berkesinambungan. Fluxus adalah sebuah sikap/ perilaku (attitude), intermedia, bereksperimen dengan kemungkinan pencampuran perbedaan dan keberagaman media. Hasilnya, mereka menggunakan dan mengkombinasikan objek-objek keseharian, bunyi, gambar, dan teks. George Marciunas (1931-1978, Lithuanian-American) menggambarkan fluxus sebagai sebuah pencampuran lelucon, permainan, pertunjukan, dan Duchamp. Fluxus berambisi untuk menghapuskan kesakitan borjuisme, seni yang mati, mempromosikan revolusi dan anti seni, menghimpun keberagaman kultural, sosial, dan revolusi politik ke dalam/ sebagai sebuah aksi (beberapa menyebutnya dengan “Aktions”. Di Amerika dikenal dengan Happenings).

 

Rujukan yang lain saya akan menyebutkan seniman Andi Warhol dan Basquiat. Meskipun mereka bukan bagian dari pergerakan Fluxus, Warhol dan Basquiat telah menjadi referensi Andry Moch. Modus dan medium yang digunakan dalam karyanya kurang lebih mengadopsi kekaryaan mereka. Sebutlah screen printing, kombinasi Budaya Pop (Pop Culture) dan Screen printing menjadi titik tolak yang penting bagi Andry Moch. Pada masa pendidikanya Andry banyak mengolah dan bereksperimentasi dengan karya-karya yang ‘ringan’ (kitsch), komik strip, kolase, xerox art, musik, performane art, film dan seni-seni yang di luar ‘mainstream’.

 

Modus dan Media: Go Home Project

 

Secara tema, karya Andry Moch. lebih banyak berbicara tentang Biografi, Bibliografi, dan ‘ke-sejarahan’. Kesadaran eksistensi dirinya dibangun dari eksistensi objek yang berada di luar dirinya. Bagi Andry, dirinya tidak akan mengada tanpa keberadaan orang lain. Keberadaan orang yang berada di luar dirinya merupakan sebuah motiv bagi dirinya. Selain orang-orang yang populer seperti Malcom X, Rhoma Irama, Van Gogh, dan Chairil Anwar yang pernah dijadikan karyanya, teman-temannya pun pernah menjadi bagian dari karyanya.

 

Dalam Projek seni-nya di Rumah Proses (‘Artefak’, 2004–dipamerkan juga pada kegiatan CP Open Biennale dengan pendisplayan yang berbeda), Andry mempresentasikan eksistensi temanya yang dia anggap penting bagi dirinya. Bagi dia, orang-orang yang eksis di lingkunganya merupakan bagian dari sejarah. 

 

Waktu itu (di Rumah Proses) karyanya berbentuk instalasi, site specific, di dalam ruangan 3 x 3 m. Di tengah ruangan tersebut tergantung dua sosok temannya (Armand Jamparing dan Fuji/ Uji) yang di sablon (screen printing) dengan warna shocking pink pada plastik transparan dengan skala yang kurang lebih sama dengan objek sebenarnya. Disekitarnya tersebar buku-buku dan objek-objek lain yang saling bertautan dengan konteks tema yang diangkat. Dari apa yang saya pahami dari karya tersebut, ada satu kritik yang ingin dia bangun, sejarah merupakan kumpulan catatan referensi dan hanyalah sebuah versi.

Dalam merepresentasikan gagasanya, Andry sangat humanis. Dari Projek seni Bibliografi, dia mengembangkan gagasan pemikiranya untuk ‘kembali ke rumah’ (Go Home Project). Go Home Project, pertama kali dipresentasikan dalam pameran Modus dan Media di GaleriKita tahun 2004. Pengembangan yang dia lakukan adalah dengan mengajak orang-orang untuk kembali ke rumah, mengalami seni dengan menyadari eksistensi dirinya melalui artefak-artefak yang berada disekitarnya, setiap orang memiliki sejarahnya sendiri-sendiri. 

 

Bagi saya, rumah adalah museum pertama yang menyimpan berbagai artefak setiap individu di dalam melakukan aktivitasnya”. (Andry Moch., 2004)

 

Orisinalitas, inilah yang terus dinyatakan oleh Andry. Bagaimana kita bisa melihat tentang satu hal yang masih belum memiliki makna, saat-saat kanvas masih berupa kain putih biasa, belum terkonstruksi beragam kepentingan-kepentingan dan modifikasi, saat gagasan itu pertama kali muncul dan direpresentasikan ke dalam kanvas maupun keputusan-keputusan yang ditandai oleh artefak-artefak tertentu (objek memorabilia). Karya seni merupakan sebuah modus, satu cara untuk meng-ada, menandai makna identitas dan eksistensi.

 

DEER ANDRY

 

DEER ANDRY merupakan gagasan terakhir Andry Moch. dalam karir kesenimananya. DEER ANDRY merupakan satu tema analogi yang dirancang dalam membungkus pameran ini. Bunyi vokal DEER (rusa) sepadan dengan bunyi vokal DEAR (yang terhormat/ yang tercinta).

 

Gagasan pameran tunggal ini merupakan sebuah reaksi Andry terhadap niatan Herra untuk membuka ruang pamer di rumahnya (S.14). Sepeninggalnya Andry (2008), respon ini tidak sempat terealisasikan oleh tanganya sendiri. Data terakhir yang saya dapat sebagai acuan dalam tulisan ini adalah tentang ceritera percakapan terakhir Herra dan Andry saat menggagas rencana pameran tunggalnya di S.14.

 

Mau cetak boneka binatang plastik menjadi keramik…membuat instalasi keramik dan lukisan”, itulah yang diutarakan Andry Moch. “Lukisan?” Saat itu Herra menyangka Andry akan membuat lukisan besar supaya bisa terjual. Maklum, saat itu para seniman mulai berbondong-bondong untuk menjadi pelukis. “Justru enggak, pengenya lukisanya kecil-kecil, gambar binatang-binatang”. Sebuah instalasi yang terdiri dari lukisan kecil-kecil yang mengelilingi patung keramik yang akan dibuatnya nanti.

 

Saat merancang pamerannya, Andry tidak mengungkapkan secara langsung binatang apa yang akan dia buat. Pengambilan Rusa sebagai wujud dari karyanya diambil dari rancangan (sketsa) terakhirnya berkaitan dengan rencana pameran ini. Karena masih dalam tahap sketsa, tidak ada alasan khusus yang terungkap kenapa Andry menggambar Rusa sebagai objek dan subjek dalam rancangan karyanya. Apabila saya runut, rusa sebagai objek pernah dia tampilkan dalam Go Home Project di GaleriKita tahun 2004. Karya ini menjadi titik tolak pembacaan lebih lanjut karya Andry dalam pameran ini (DEER ANDRY).

 

Setelah melalui pembicaraan yang lebih intensif dengan Herra, kita mulai membedah Rusa sebagai subjek yang telah menjadi referensi simbolik Andry. Hal-hal yang secara simbolis terhubung dengan masa sekarang sangat mungkin telah dipersatukan pada masa prasejarah (masa lalu) oleh konseptual dan identitas linguistik. Relasi simbolik terlihat menjadi suatu peninggalan dan tanda yang membentuk identitas. 

 

Rusa merupakan simbol yang diasosiasikan dengan Timur/ Ketimuran (east), Fajar/ Dini Hari (dawn), Cahaya (light), Kemurnian/ Kesucian (purity), Regenerasi (regeneration), Kreatifitas (creativity), dan Spiritualitas (spiritulity). Bentuk-bentuk representasi simbol rusa ini bisa kita temui pada kisah dalam film kartun Bembi yang merepresentasikan peristiwa regenerasi, dalam kisah Harry Potter: The Prisoner of Azkaban rusa telah menjadi kekuatan (cahaya) dalam mengusir kegelapan (Dementor), dalam serial komik Jepang One Piece karakter Rusa merupakan seorang sosok dokter (dalam beberapa referensi, rusa merupakan simbol dari kekuatan penyembuhan), dalam mitos ras Elf ada seorang dukun (Druids) bermahkota kepala rusa yang merepresentasikan kesucian dan spiritualitas. Kita, dan mungkin Andry yang telah mengkonsumsi kisah-kisah tersebut dan menjadikan rusa menjadi satu referensi simbol pembentuk identitas yang dirangkai ke dalam dialektika peristiwa-peristiwa personal.

 

Secara garis besar, terkait dengan Go Home Project, Andry telah bermain-main di wilayah ini. Menjadikan objek-objek keseharian sebagai pemantik ingatan-ingatan dalam membaca sejarah dan kisah-kisah, yang secara tidak sadar kita telah dibentuk olehnya. Kemungkinan, modus ini diteruskan Andry dalam pameran tunggalnya (DEER ANDRY). Rusa hanyalah salah satu bagian dari pengalaman simbolik yang ingin dia bagi dari apa yang dia pahami tentang kembali ke rumah (go home). Seperti yang saya kutip sebelumnya, biarkanlah gagasan itu terus mengalir dan bercampur (flux) dengan keseharian, dan rumah merupakan museum pertama yang telah menyimpan artefak-artefak tentang kita. Inilah yang menjadi basis keobjekan karya Andry.

 

Sudah cukup lama Andry mengumpulkan kembali artefak-artefak tentang masa lalu. Ingatan-ingatan ini dia kumpulkan melalui objek-objek yang dia ingat, mulai dari mainan, majalah sampai musik-musik yang telah menandai jamannya. Tempat-tempat penjualan barang bekas seperti Cikapundung dan Cihapit di Bandung telah akrab dengan dirinya. Perilaku ini menguak pernyataan Andry tentang karya Kristo, karya seni yang sebenarnya ada di dalam benak pikiran kita, sekalipun karya tersebut hancur dia masih ada dalam ingatan kita.

 

Andry tidak hanya mengumpulkan artefak-artefak masa lalu, proses perjalanan hidupnya-pun dia bentuk artefak-artefak baru. Rusa akan menjadi pemantik tersendiri bagi kita dalam mengingat biografi Andry, sebagai sosok rusa (bersama dengan bentuk subjek representasinya) yang berada di padang rumput/ savana. Inilah artefak yang ditinggalkan dia buat kita, tempat di mana dia berada dan mengada. Kesadaran terhadap identitas dirinya dibangun dari eksistensi dan realitas lingkungannya. Ingatan terbesarnya adalah ruang di mana dia pernah berada, tempat di mana dia bersentuhan dengan orang-orang yang berada di sekelilingnya.

 

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.